Senin, 28 September 2020 - 05:31 WIB

WBP Wanita Lapas Wirogunan Selesai dilatih Membatik Mahasiswa Sanata Dharma

Salah satu Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tengah mendampingi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dalam pelatihan batik yang diselenggarakan kurang lebih selama tiga bulan. Foto: Ambar kusuma

Salah satu Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tengah mendampingi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dalam pelatihan batik yang diselenggarakan lebih kurang selama tiga bulan. Foto: Ambar kusuma

Selama tiga bulan lebih lima orang mahasiswa dari jurusan berbeda dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta memberikan pelatihan membatik bagi tiga puluh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) wanita. Pelatihan yang mereka selenggarakan merupakan bagian dari program kampus berupa “Kegiatan Membatik guna Meningkatkan Kreativitas dan Media Ekspirasi Warga Binaan Pemasyarakatan Wanita Lapas Yogyakarta”, yang merupakan bagian dari Bidang Kegiatan PKM Pengabdian Kepada Masyarakat. Kelima mahasiswa Universitas Sanata Dharma tersebut adalah:
1.Lorensius Imus Ventora dari jurusan Farmasi sebagai ketua tim.
2.Tofan Gustyawan dari Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia
3.Hariyanto dari jurusan Pendidikan Ekonomi
4.Bagas Abi Yoga dari jurusan Farmasi
5.Raymond Apriyogi D.P. dari jurusan Teknik Informatika

Ada beberapa kegiatan yang mereka lakukan dalam pelatihan tersebut, yaitu:
1.Pengetahuan dasar tentang membatik
2.Praktek, seperti pengenalan kain, menggambar, memberi malam, mencelup, menjemur.
3.Evaluasi hasil karya

Diakhir kegiatan pada Senin (14/6) para mahasiswa mengundang pakar membatik, Darmaji, pengajar di SMP II Bopkri, untuk mengevaluasi hasil karya mereka. Penuh keakraban, dan sangat detail Darmaji memberi penjelasan tentang batik, antara lain dinyatakan bahwa membatik pada batik tradisional itu sarat aturan atau ada pakemnya, dijelaskan juga bahwa batik sebagai seni, dan dalam mengerjakannya perlu keiklasan dan kesabaran.

Sambil menjelaskan, dia juga melihat batik hasil karya WBP. Apa yang salah di dalam karya WBP dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Sindiran dan motivasi agar WBP terus belajar membatik juga tidak jarang dilontarkan.

“Rakyat Indonesia marah ketika Malaysia mengklaim bahwa batik milik mereka, tetapi lucunya orang Indonesia sendiri malas belajar membatik.” sindir Darmaji.

Oleh sebab itu Darmaji mengajak para WBP yang sudah mengikuti pelatihan membatik untuk terus belajar membatik, agar warisan nenek moyang dapat terus berkembang.(AK 14062014)

Filed in: Kabar Penjara Juni 2014

No comments yet.

Leave a Reply