Jumat, 27 November 2020 - 21:21 WIB

WBP Lapas Yogyakarta Meraih Juara III Lomba Menulis Cerpen Remaja

Antonius (Memegang Trofi Piala) seorang warga binaan pemasyarakatan Lapas Kelas IIA Yogyakarta yang berhasil meraih juara III Lomba Cerpen Remaja berfoto bersama petugas pemasyarakatan pada Sabtu (7/6) usai acara penjurian  di Balai Bahasa Yogyakarta . Foto: Istimewa

Antonius (Memegang Trofi Piala) seorang warga binaan pemasyarakatan Lapas Kelas IIA Yogyakarta yang berhasil meraih juara III Lomba Cerpen Remaja berfoto bersama petugas pemasyarakatan pada Sabtu (7/6) usai acara penjurian di Balai Bahasa Yogyakarta . Foto: Istimewa

Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan lomba menulis cerpen dan esai bagi Remaja. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Antonius, seorang WBP Lapas Yogyakarta. Dibawah bimbingan Jati Suryono dan Ambar Kusuma, petugas Lapas Yogyakarta, sebuah cerpen digarap Antonius. Cerpen pertamanya selesai dibuat, dan diserahkan kepada pembimbing. Ternyata pembimbing menolak, karena dianggap belum memenuhi standar. Diarahkannya secara singkat dalam mencari tema dengan melihat atau memperhatikan sekitarnya yang sebetulnya merupakan sumber cerita, seperti keunikan-keunikan Masjid dimana Antonius sehari-hari bertugas sebagai takmir.

Kembali cerita dibuat hingga selesai dan diberi judul “Masjid Mbah Wiro”. Pembimbing setuju dan langsung diserahkan ke panitia di kantor Balai Bahasa. Hasilnya, cerpen Antonius masuk sepuluh besar dari lebih 400 cerpen  dan harus dipresentasikan.
Didampingi 3 orang petugas, Ambar Kusuma, Jati Suryono, dan Sihono, pada tanggal 07 Juni 2014 Antonius mempresentasikan cerpen hasil karyanya di depan tiga juri yang cukup kondang di bidang sastra di kota Yogyakarta, yaitu Iman Budi Santoso, Mustafa, dan Danu Prabowo.Hasilnya, Antonius dapat meraih juara III. Dia memperoleh piala,piagam, buku, dan dana pembinaan. Kemenangan tersebut merupakan hal yang sangat menyenangkan, dan dapat menjadi motivasi bagi rakan-rekannya para WBP di Lapas Yogyakarta.

Pihak Balai Bahasa DIY dan para juri juga sangat senang dengan keikutsertaan seorang WBP. Mereka tidak menyangka bahwa di Lapas Yogyakarta ada pembinaan intelektual bagi WBP. Ketakjuban Balai Bahasa dan para juri adalah keterbukaan Antonius yang menyatakan dirinya seorang WBP di Lapas Yogyakarta, dengan memplesetkannya, “sedang kuliah di Universitas Wirogunan”. Karuan saja kata-kata ini membuat yang mendengar menjadi tertawa. Hal yang menarik dari cerpen Antonius adalah bukan tema kekerasan atau tema seram yang sering distigmakan oleh masyarakat tentang lapas. Antonius justru bercerita kegiatan religious para WBP di Masjid yang berada di Lapas Wirogunan yang memiliki keunikan sendiri dibanding masjid di luar lapas.

Balai Bahasa sendiri menyatakan siap bekerja sama dengtan Lapas Yogyakarta untuk memberikan pembinaan atau pelatihan, baik kepada petugas Lapas Yogyakarta, maupun kepada WBP terkait dengan “Pembinaan Bahasa Indonesia”. (AK 07062014)

Filed in: Kabar Penjara Juni 2014

No comments yet.

Leave a Reply