Kamis, 1 Oktober 2020 - 02:22 WIB

Tunas Muda Pengayoman Lapas Wirogunan Piawai Sebagai Pemandu Tamu Manca Negara

 

Peserta Regional Workshop on Preventing Violent Extremism in Prison yang berasal dari negara di kawasan ASEAN ditambah dari Australia dan Canada pada hari Rabu (09/10/2019) berkunjung ke Lapas Kelas IIA Yogyakarta (Lapas Wirogunan). Kedatangan mereka disambut oleh Kepala Divisi Pemasyarakatan, Kepala Divisi Administrasi, Kepala Lapas Wirogunan, dan Kepala Unit Pelaksana Teknik Kanwil Kemenkumham DIY. Para tamu dipandu oleh Manggala, seorang pegawai muda yang menjelaskan tentang Lapas Wirogunan. Penjelasan pun dilakukan dengan berjalan santai. Sesampai di plataran dalam Lapas para peserta workshop disuguhkan tarian yang dibawakn oleh para warga binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Perempuan Yogyakarta. Setelah itu mereka  melewati area steril menuju aula dan disambut Sri Puguh Budi Utami, Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham RI. Dipersilahkannya para peserta mencicipi wedang secang dan makanan khas Yogyakarta.

Selain Manggala, di dalam aula telah siap dua pegawai muda Lapas wirogunan menjadi pemandu bagi para peserta. Veryndra dan Vernandito dengan piawai memberikan penjelasan dalam bahasa Inggris produk-produk hasil karya WBP dari Lapas Wirogunan, Lapas Perempuan Yogyakarta, Lapas Sleman, Lapas Khusus Narkotika Yogyakarta, dan LPKA Yogyakarta.

Walaupun ada penterjemah, keberadaan Manggala, Veryndra, dan Fernandito sangat membantu para peserta untuk mendapatkan informasi. Perkataan peserta tidak perlu diterjemahkan dahulu, karena para pegawai muda ini bisa langsung memberikan penjelasan secara langsung dalam bahasa Inggris yang baik.

Banyak hal yang  ingin diketahui para peserta workshop, salah satunya kegiatan membatik. Manggala pun menjelaskan karya budaya asli Indonesia ini yang sudah diakui oleh dunia. Mereka terkagum-kagum mengetahui cara membuat batik yang harus melalui banyak proses. Bahkan untuk melepas penasarannya ada seorang peserta yang mencoba membatik. Dia pun menggeleng-geleng karena ternyata sulit.

Selain menanyakan kegiatan ketrampilan, para peserta juga menanyakan keberadaan WBP di dalam Lapas. Seperti peserta dari Filipina yang menanyakan bagaimana penempatan WBP laki-laki dan perempuan. Tangkas Veryndra menjelaskan bahwa WBP laki-laki dan perempuan berada pada lembaga yang berbeda. Dijelaskan pula bahwa beberapa tahun yang lalu mereka memang berada dalam satu Lapas dan ditempatkan pada blok yang berbeda dengan pengawasan ketat.

Lain lagi dengan Fernandito yang mendapat pertanyaan bahwa Lapas Wirogunan ini terkesan tua. Pemandu ini menguatkan penanya dari Vietnam, bahwa Lapas Wirogunan usianya sudah lebih satu abad. Ada sejak jaman kolonial Belanda. Seluruh blok hunian adalah bangunan asli sejak berdirinya, sedangkan bangunan baru digunakan untuk perkantoran.

Para tunas muda Pengayoman Lapas Wirogunan ini begitu senang mendapat tugas sebagai pemandu. Sebuah pengalaman berharga dapat memberikan informasi kepada para tamu dari mancanegara untuk  menjelaskan sistem Pemasyarakatan di Indonesia, khususnya pelaksanaan sistem Pemasyarakatan di Lapas Wirogunan.

(AK09102019)

Filed in: Kabar Penjara Oktober 2019

No comments yet.

Leave a Reply