Tim Zero Tuberkulosis Sambangi Lapas Yogyakarta, WBP dan Petugas Diskrining

 Tim Zero Tuberkulosis Sambangi Lapas Yogyakarta, WBP dan Petugas Diskrining

YOGYAKARTA – Guna mengetahui secara dini terinfeksi Tuberkulosis (TB) atau tidak, petugas Pemasyarakatan dan Warga Binaan Lapas Yogyakarta mendapat pelayanan gratis skrining program Zero TB untuk wilayah Kota Yogyakarta. Acara ini berlangsung sejak Rabu (21/7).

Dalam keterangannya salah 1 tenaga kesehatan dari Tim Zero TB Yogyakarta, dr. Felisia, menyampaikan bahwa agenda pada kegiatan ini mencari kasus TB dalam rangka mengeliminasi TB di Indonesia tahun 2030.

“Kami melakukan skrining di tempat-tempat yang berisiko tinggi, salah satunya adalah area lapas,” ungkapnya.

Seorang WBP tengah menerima penjelasan dari Tim Zero TB terkait hasil rontgennya. Foto: Husni/ Humas LPYK

Terpantau, rangkaian kegiatan hasil kerja sama Lapas Yogyakarta dengan Tim Zero TB Yogyakarta ini dimulai dengan skrining Covid-19, wawancara risiko TB dengan perawat, pengukuran tinggi dan berat badan, rontgen dada serta pengambilan sampel dahak bagi WBP atau Petugas Pemasyarakatan yang terindikasi TB.

Di tempat yang sama tenaga medis Lapas Yogyakarta, dr. Novita Adibatul M. menambahkan bahwa selain untuk mendeteksi TB, rontgen ini juga bermanfaat untuk skrining Covid-19.

“Karena dalam gambaran rontgen dapat dilihat adanya gambaran paru-paru jika dia kena covid atau post covid,” tambah dr. Novita

Selanjutnya Ia menjelaskan mengenai tindak lanjut jika ada yang positif TB bahwa saat ini Lapas Yogyakarta telah memiliki blok isolasi khusus untuk WBP yang menderita TB, sehingga penanganan untuk pasien TB bisa lebih optimal. Pihaknya juga akan melakukan pengobatan secara bertahap.

“Nanti tergantung dari tingkat penyakitnya, atau pernah menderita TB atau tidak,” jelasnya.

dr. Felisia, salah satu tim medis dari Zero TB Yogyakarta mengingatkan supaya tidak ada stigma negatif seandainya ada yang positif TB, harus didukung lingkungan karena pengobatannya cukup panjang, motivasinya harus kuat.| Foto: Husni/ Humas LPYK

Sejalan dengan penjelasan tersebut, dr. Felisia menambahkan bahwa penularan penyakit TB secara umum dari udara, artinya faktor risiko penularan harus diminimalkan sebisa mungkin.

“Dari lingkungan harus mendukung, contohnya sinar matahari dan ventilasi udara yang cukup. Gejala TB diantaranya batuk lebih dari 2 minggu, keringat malam, batuk darah, penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, nah itu sebaiknya kita sadar untuk memeriksakan diri, tidak usah takut. Seandainya memang diperiksa dan hasilnya positif harus mau berobat,” paparnya.

Sementara itu kepala Lapas Yogyakarta, Arimin mengapresiasi kegiatan yang menerapkan protokol kesehatan secara ketat ini.

“Pemeriksaan ini perlu dilakukan, baik terhadap WBP maupun petugas, untuk mengetahui ada yang terkena TB atau tidak. Karena setiap orang berhak memperoleh pelayanan¬†kesehatan,” ujar kalapas.

Kalapas Yogyakarta, Arimin tengah menerima penjelasan dokter dari Tim Zero TB Yogyakarta.| Foto: Husni/ Humas LPYK

“Saya juga menyampaikan terima kasih kepada Tim Zero TB, kepada Pemda D.I. Yogyakarta, Dinas Kesehatan yang telah memberikan fasilitas, dukungan terhadap terlaksananya kegiatan skrining TB di Lapas Yogyakarta,” pungkasnya. [HT]

 

 

Tim Humas Lapas Yogyakarta

https://lapaswirogunan.com

correctional officers

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Skip to content