Studi Tiru Pembangunan ZI, Lapas Yogyakarta Bagi Kunci Perubahan ke Lapas Klaten

 Studi Tiru Pembangunan ZI, Lapas Yogyakarta Bagi Kunci Perubahan ke Lapas Klaten

Kalapas Yogyakarta, Soleh Joko Sutopo, tengah menunjukkan alat pemindai kartu pembinaan kepada Tim Studi Tiru dari Lapas Klaten.| Foto: Ambar/ Humas Lapas Yogyakarta

YOGYAKARTA – Sebelas pegawai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Klaten melakukan studi tiru di Lapas Kelas IIA Yogyakarta pada Sabtu (11/6). Tim studi tiru diterima langsung oleh Kepala Lapas Yogyakarta, Soleh Joko Sutopo.

Kegiatan yang dimulai sejak pagi tersebut, dibuka di Aula Gevangenis En Huis Van Wirogunan. Di dalam bangunan tua yang telah disulap menjadi begitu menawan tersebut, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Binadik) Lapas Klaten, Muhammad Setiawan, sekaligus Ketua Tim, mengatakan bahwa kunjungannya beserta tim, dimaksudkan untuk mencontoh dan belajar dari apa yang telah dicapai Lapas Kelas IIA Yogyakarta.

“Diantaranya program unggulan berupa Assessment Center dan kegiatan kemandirian kuliner berupa Bakpia,” terangnya.

Menanggapi hal tersebut, Kalapas Soleh mengawali dengan memaparkan kunci perubahan itu sendiri.

”Dalam melakukan perubahan kita harus memperhatikan regulasi atau pijakan hukumnya. Kita juga mencari tahu apa kelemahan dari regulasi tersebut, lalu selesaikan kelemahan atau masalahnya tersebut dengan membuat inovasi,”ungkapnya.

Lebih lanjut Soleh menjelaskan bahwa core business Lapas Kelas IIA Yogyakarta dengan Lapas Kelas IIB Klaten adalah sama. Yaitu dimulai dari penerimaan WBP, pengamanan, kesehatan, penilaian, klasifikasi WBP, serta penempatan pembinaan WBP dan diakhiri dengan pembebasan WBP.

Secara detail, Soleh juga menerangkan tentang perubahan yang telah dilakukan Lapas Kelas IIA Yogyakarta. Dimulai dari Pembangunan Assessment Center yang merupakan jawaban dari Permenkumham nomor 7 tahun 2022. Inovasi ini, Ia menjelaskan dapat digunakan berbagai kegiatan seperti konseling atau pendampingan psikologi bagi WBP, penerapan Sistem Penilaian Pembinaan Narapidana (SPPN), kegiatan pendampingan Wali Pemasyarakatan terhadap WBP, juga tempat melakukan penelitian Pemasyarakatan yang dilakukan Pembimbing Kemasyarakatan dari Bapas.

Selain itu Kalapas juga memaparkan terkait produksi Bakpia ‘Mbah Wiro 378’ yang menjadi andalan pembinaan kemandirian Lapas Kelas IIA Yogyakarta. Lalu, perubahan ruang tindakan klinik kesehatan juga sarana prasarana lain di klinik pratama tersebut, sehingga saat ini telah berizin praktik dari Dinas Kesehatan Yogyakarta.

Dijelaskan pula pembinaan kepribadian keagamaan dalam bentuk Madrasah yang terdiri dari Kelas Iqro, Alquran, dan Hafiz. Program yang bekerja sama dengan Kemenag Kota Yogyakarta dan Baznas DIY tersebut telah memiliki kurikulum, silabus serta buku pedoman materi pelajaran.

Terakhir kepada tim studi tiru, kalapas menjelaskan proses perubahan halaman depan Lapas yang awalnya ruang kosong berpagar, diubah menjadi wahana edukasi Pemasyarakatan yang berdampak banyak masyarakat dan wisatawan yang melintas di Jalan Tamansiswa singgah sejenak di halaman Lapas Kelas IIA Yogyakarta. Selain untuk santai juga bisa membaca sejarah kepenjaraan hingga Pemasyarakatan di Indonesia. Terlebih tembok Lapas pun telah dilukis oleh para seniman lokal dan mancanegara, sehingga lembaga ini tampak cantik dan humanis.

Selesai pembukaan di aula, Soleh mengajak pegawai Lapas Kelas IIB Klaten meninjau apa yang telah dijelaskan. Mereka pun dapat mencicipi bakpia yang telah berlabel IPRT itu dan membuktikan kualitas dan cita rasa yang dapat bersaing di pasaran.

Di akhir kunjungan, selasar halaman depan yang telah menjadi wahana edukasi Pemasyarakatan menjadi bagian yang didatangi. Tim terlihat takjub, hingga satu diantaranya mengucapkan bahwa di Lapas Yogyakarta apa-apa tersedia dalam Bahasa Jawa.

”Neng kene opo-opo ono,” selorohnya. [AK]

Tim Humas Lapas Yogyakarta

https://lapaswirogunan.com

correctional officers

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Skip to content