Menjadi Narasumber Dialog Interaktif, Kalapas: Pembinaan Kami Pendekatan Humanis

 Menjadi Narasumber Dialog Interaktif, Kalapas: Pembinaan Kami Pendekatan Humanis

Selain disiarkan radio, dialog juga disiarkan online melalui channel youtube RRI Pro 1 Yogyakarta. | Foto: Husni/ Humas Lapas Yogyakarta

YOGYAKARTA- Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIA Yogyakarta, Soleh Joko Sutopo, menjadi narasumber dalam Program Dialog Lintas Jogja Pagi Radio Republik Indonesia (RRI) pada Kamis (14/4). Dialong yang disiarkan melalui frekuensi 91,1 FM dan disiarkan melalui live streaming itu mengusung tema ‘Cahaya Hidayah Warga Binaan’.

Madrasah Al-Fajar
Dalam dialog pertamanya, Kalapas menyampaikan kegiatan pembinaan kepribadian keagamaan yakni Madrasah. Kalapas menyampaikan kurikulum dan data warga Binaan yang telah diwisuda.

“Madrasah Al-Fajar Lapas Kelas IIA Yogyakarta sudah melaksanakan wisuda 6 angkatan dari tahun 2018. Tetapi dalam peluncuran silabusnya atau kurikulumnya yang resmi dilucurkan oleh Bapak Wakil Menteri Hukum dan HAM, yang aman sebagai kurikulum sebagai panduan pengajar selama ini melaksnakan pendidikan di Madrasah. Jika dilihat dari data santri yang sudah diwisuda total ada 346 santri. Dimana yang sangat luar biasa, ini terkait tahfiz penghafalan Alquran. Di tahun ini, tahun 2022, ada 11 Warga Binaan kami yang tahfizh Alquran, bahkan dari 11 ini 2 adalah mualaf,” paparnya.

Tidak sendiri, narasumber lainnya yaitu Penyuluh Agama Ahli Madya Kemenag Kota Yogyakarta, M. Makhlani yang juga merupakan penyuluh Agama Islam di Madrasah Al-Fajar Lapas Kelas IIA Yogyakarta.
M. Makhlani menyampaikan suasana Lapas Kelas IIA Yogyakarta pada Bulan Ramadan seperti pesantren tidak seperti yang Ia bayangkan.

“Bukan seperti di Lapas. Warga Binaan disibukkan dengan kegiatan pembinaan seperti lantunan Asmaul Husna, para santri berbaju koko berkopyah berbondong-bondong menuju Masjid dan Madrasah. Jadi suasananya benar benar seperti di pesantren,” ucapnya dengan kagum.

Poster Dialog Interaktif RRI.| Grafis: Istimewa

M. Makhlani juga memberikan apreasiasi semangat beribadah bagi para Warga Binaan selama Bulan Ramadan.

“Jadi kalau malam hari selama Bulan Ramadan ini Warga Binaan diberikan kesempatan bergantian untuk Salat Tarawih. Itu saya merasakan sendiri, yang kebetulan saya berkesempatan menjadi imam tarawih bersama mereka berjamaah. Wow itu semangatnya luar biasa Pak Kalapas. Bisa didengar setelah selesai baca Surat Al-Fatihah, ‘Aamiinnya’ itu wah luar biasa. Saya rasakan betul, berbeda sekali dengan masjid- masjid di luar. Ketika berselawat menjawabnya sangat semangat. Ini masyaallah luar biasa sekali Pak Kalapas,” jelas M. Akhlani.

Assessment Center
Kalapas juga menyampaikan Inovasi program Assesment Center untuk salah satu pemberian hak warga binaan yaitu remisi dan integrasi yang sudah mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Hukum dan HAM.

“Assesment Center salah satu pengukuran pemberian hak warga binaan pemasyarakatan yaitu remisi dan integrasi. Integrasi itu ada PB, CB, dan CMB. Untuk mendapatkan hak remisi dan Integrasi Warga Binaan harus memenuhi instrumen dari sistem penilaian pembinaan narapidana (SPPN). Lingkup assessment center bukan hanya pemberian hak warga binaan tetapi juga pendampingan secara psikologi sehingga kita bisa memilah mana yang berisiko tinggi atau maksimum medium, minimum. Sehingga kita bisa menempatkan pada pembinaan yang sesuai,” jelas Kalapas.

Dalam closing statement-nya Kalapas menyampaikan jajaran Lapas Yogyakarta berkeinginan untuk menghapus stigma “penjara seram” kepada masyarakat dengan melibatkan masyarakat dalam pembinaan yang humanis. Sehingga outputnya bisa menjadi masyarakat yang seutuhnya.

Kalapas saat closing statement, dialog tersebut dilaksanakan di lokasi masing-masing, mengudara melalui frekuensi 91,1FM. | Foto: Husni/Humas Lapas Yogyakarta

“Stigma masyarakat bisa runtuh setelah melihat pembinaan yang kami laksanakan secara humanis. Mas Rosi (pemandu acara -red) juga melihat kami pengen menunjukkan kepada masyarakat bahwa kami memberikan pembinaan dengan humanis. Penjara yang kesannya serem, boleh serem boleh supaya orang orang tidak mau masuk. Tetapi kami dalam memberikan pembinaan akan lebih humanis. Mas Rosi juga bisa lihat bagimana masyarakat berfoto ria di depan kantor kami. Ini menunjukkan kami terbuka, silahkan masyarakat membantu kami mendukung kami untuk membantu pembinaan kepada warga binaan. Karena mereka hanya khilaf, jadi masih bisa kita luruskan bersama- sama. Sehingga nanti menjadi masyarakat yang seutuhnya setelah keluar dari Lapas kelas IIA Yogyakarta,” tandas Kalapas. [TPH]

Tim Humas Lapas Yogyakarta

https://lapaswirogunan.com

correctional officers

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.