Rabu, 30 September 2020 - 03:32 WIB

Ingin Melihat Langsung Proses Pemasyarakatan, Mahasiswa Hang Tuah Berkunjung ke Lapas Wirogunan

DSCN2361+

Mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya tengah mengamati hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Wirogunan di bengkel kerja pada Kamis (26/6). Foto: Ambar Kusuma

Lima puluh orang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hang Tuah Surabaya berkunjung ke Lapas Kelas IIA Yogyakarta atau yang dikenal dengan nama Lapas Wirogunan pada Hari Kamis (26/6). Kegiatan diawali dengan membagi dua kelompok yang terdiri dari kelompok pria dan kelompok wanita. Ambar Kusuma, Petugas Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) menjadi pemandu kelompok mahasiswa pria menuju bengkel kerja, sementara Sukamto, Petugas Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimaswat) memandu kelompok wanita menuju blok hunian wanita dan bengkel kerja.

Sambil berjalan para mahasiswa mendapat penjelasan tentang profil Lapas Wirogunan, berupa sejarah, jenis pelayanan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), dan bentuk kegiatan pembinaan WBP. Selain itu mahasiswa juga diberi kesempatan untuk melihat langsung kegiatan kerja WBP di bengkel kerja yang dipimpin oleh Ganif Efendi, Kasi Kegiatan Kerja. Saat kunjungan para WBP tengah beraktifitas seperti hari biasa. Seperti membuat kerajinan tangan, menjahit, menyetrika, membuat travo, membuat kerajinan kulit, membuat keset, menyablon kaos, membuat lemari, dan juga panel bambu.

Para mahasiswa dan dosen tidak mengira bahwa di Lapas Wirogunan ternyata sarat dengan pembinaan dan pelatihan bagi WBP. “Nggak nyangka ternyata disini banyak kegiatannya, kirain cuma diam (di kamar huni) aja” celetuk salah satu mahasiswa.

Selesai mengunjungi bengkel kerja dan blok hunian wanita, diarahkan menuju aula dan disambut Group Band WBP Lapas Wirogunan hasil binaan Iwan Yujono, Bimaswat. Dua orang WBP wanita bernyanyi dihadapan para mahasiswa dan mendapat tepuk tangan meriah mereka.

Nurul Hadi, dosen dari Universitas Hang Tuah mejelaskan tujuan kunjungan ini untuk melihat proses pemasyarakatan secara langsung di Lapas Wirogunan, setelah mempelajarinya secara teori di kampus. Selain itu diharapkan di masa yang akan datang ada kegiatan lain dari para mahasiswa, seperti melakukan penelitian.

Zaenal Arifin, Kepala Lapas Wirogunan menyambut senang kedatangan para mahasiswa, dan dalam sambutannya mengatakan beberapa hal, seperti bangunan lapas yang merupakan peninggalan kolonial Belanda. Zaenal juga berharap para mahasiswa dapat menjadi penyambung informasi ke masyarakat bahwa lapas tidak ikut campur tangan terhadap putusan hakim yang menyatakan seseorang bersalah dan harus dipidana penjara.

“Mereka sudah menjadi narapidana, maka proses keadilan atau proses hukum yang dijalankan seseorang sudah selesai, dan di lapas mereka masuk pada sistem pemasyarakatan dimana narapidana mendapatkan pembinaan”, papar Zaenal pada kesempatan tersebut.

Para mahasiswa juga disajikan dua WBP yang secara sukarela mau bercerita kenapa mereka harus menjalankan pidana di Lapas Wirogunan. Di akhir acara mereka membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berbincang-bincang dengan perwakilan WBP. (AK 26062014)

Filed in: Kabar Penjara Juni 2014

No comments yet.

Leave a Reply