Jumat, 21 September 2018 - 02:18 WIB

Napiter Lapas Kelas IIA Yogyakarta Mendapat Kunjungan dari Polda DIY

 

Keluarga Besar Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berkunjung ke Lapas Kelas IIA Yogyakarta pada Kamis (19/04/2018). Kedatangan mereka disambut Satriyo Waluyo, Kepala Lapas Kelas IIA Yogyakarta, dengan didampingi  Dwi Agus Setia Budi, Kepala Bidang Pembinaan, Bimbingan Pemasyarakatan, Pengentasan Anak, Informasi dan Komunikasi Kanwil Kemenkumham DIY.

Kunjungan kali ini selain untuk bersilaturahmi, juga untuk berkoordinasi terkait perkembangan pembinaan tiga narapidana teroris (napiter) yang menjalankan pidana di Lapas Kelas IIA Yogyakarta.

Suswanto, selaku Wadirintelkam Polda DIY menyatakan, “deradikalisasi bagi napiter menjadi tugas pokok kami dari Polri, oleh sebab itu kami bersilaturahmi seperti biasa untuk mencairkan suasana. Kita berdoa semoga kegiatan lancar dan para napiter bisa mendapatkan hidayah.”

Dwi Agus Setia Budi juga menyatakan bahwa menangani napiter tidak semudah membalikan tangan. Tidak semua pegawai bisa melunakan mereka, bahkan justru pegawai yang bisa ikut keyakinan atau ajaran mereka. Perlakuan bagi mereka berbeda dengan napi lain, dan mereka harus diassessment terlebih dahulu.

Pada kesempatan tersebut Suswanto, dan Zaenal dari Polda DIY serta Muh Inan dariYayasan Lingkar Perdamaian berkesempatan untuk berbincang bincang kepada dua napiter. Kepada para napiter mereka menjelaskan bahwa tujuan kedatangan jajaran Polda DIY serta dari Yayasan untuk bersilaturahmi dan melihat keadaan napiter selama di lapas. Walau mereka berusaha santai dan menunjukan keakrapan, tetapi tidak terhadap  napiter. Keduanya  tampak kaku, banyak mendengarkan apa yang dibicarakan tamunya, bahkan Fahrudin banyak menunduk.

Ketika diminta bicara, Beni salah satu napiter mengatakan,”Saya milik Allah, keluarga saya milik Allah. Jadi saya serahkan semua kepada Allah. Saya bersyukur, walau di Lapas saya banyak mendapat karunia dari Allah. Saya pasrah kepada Allah, saya Ridho Allah sebagai Tuhanku dan Muhammad utusan Allah. Syariat Islam sebagai undang-undangku. Hidup mati kita hanya untuk Allah. Saya bersyukur kepada Allah, karena Allah telah melimpahkan semua kepada saya. Jangan dilihat tolak ukur habluminanas dari kaca mata dunia semata.”

Ketika Fahrudin ditanya bagaimana mendidik anak, dengan singkat dijawabnya, “Saya mendidik anak sebagaimana Lukman mendidik anak-anaknya.

Satriyo Waluyo, Kepala Lapas Kelas IIA Yogyakarta mengungkapkan, “Lapas merupakan tempat narapidana dibina, termasuk para napiter. Khusus untuk napiter dalam pembinaannya perlu kerja sama dengan pihak lain. Oleh sebab itu kami berkoordinasi dengan Polri, BNPT, para ulama, Kementerian agama dan pihak-pihak lainnya. “

Tambahnya lagi, “Di Lapas pembinaan bagi napiter juga dilakukan secara bertahap. Dimulai dari tahapan awal, tahap lanjutan dan tahapan akhir. Perlakuan khusus memang diperlakukan bagi mereka. Oleh sebab itu para napiter itu didampingi oleh petugas kami yang berperan sebagai pamong. Diawal pembinaan, kami berusaha agar mereka bisa beradaptasi dengan lapas, bisa berkomunikasi dengan baik kepada petugas. Alhamdulillah sejauh ini, hal tersebut sudah terwujud. Semoga kedepannya bisa lebih baik. Oleh sebab itu kami membutuhkan kerja sama yang baik dengan berbagai pihak terkait, seperti yang kami lakukan dengan jajaran Polri.

(AK 19042018)

Filed in: Kabar Penjara April 2018

No comments yet.

Leave a Reply