Minggu, 28 Mei 2017 - 19:24 WIB

Mahasiswa STHB ke Lapas Yogyakarta, Kok Malah Tidak Kelihatan Seremnya?

Beberapa Mahasiswi STHB berdiri mengelilingi Yanti seorang pengrajin yang bekerjasama dengan Lapas Yogyakarta dalam pembinaan keterampilan kepada WBP Wanita, di Blok Wanita Lapas Yogyakarta pada Sabtu (09/11).

Beberapa Mahasiswi STHB berdiri mengelilingi petugas dan Yanti seorang pengrajin yang bekerjasama dengan Lapas Yogyakarta dalam pembinaan keterampilan kepada WBP Wanita, di Blok Wanita Lapas Yogyakarta pada Sabtu (09/11). Foto:Dok.PPID

Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB) berkunjung ke Lapas Wirogunan Yogyakarta Sabtu (09/11). Mereka dipandu oleh Ambar Kusuma, petugas Pelayanan Informasi dan Dokumentasi. Setelah dipaparkan secara ringkas tentang sejarah dan fasilitas di Lapas Wirogunan, para mahasiswa diajak mengunjungi blok Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) wanita.

Pada saat yang sama, Ainun, Penyuluh Agama Islam dari Kanwil Kementerian Agama sedang memberikan siraman rohani kepada WBP wanita beragama Islam. Tidak jauh dari situ, Yanti seorang pengusaha kerajinan tangan dari UKM kabupaten Sleman, sedang mempersiapkan diri dengan kain-kain percanya untuk mengajarkan ketrampilan kerajinan kain perca. Ambar menjelaskan kepada mahasiswa, bahwa ada tiga pilar dalam pembinaan bagi WBP di Lapas, yaitu Petugas, WBP, dan masyarakat.

“Ibu Ainun dan Ibu Yanti adalah contoh bentuk partisipasi masyarakat dalam memberikan pembinaan,”, papar Ambar kepada mahasiswa.

Seorang mahasiswa bertanya, “Ibu yang mengajarkan kerajinan kain percaya kepada napi, lalu bagaimana dengan penjualannya?”

“Saya tidak hanya melatih, tetapi juga menyediakan bahan baku, dan bila sudah trampil dan hasilnya baik saya pula yang mengambil (hasil produksi), napi mendapatkan jasa pembuatan.”, terang Yanti.

Kunjungan dilanjutkan ke Bengkel Kerja khusus WBP pria. Tampak para WBP laki-laki tengah disibukkan dengan pekerjaannya di tempat yang terdiri dari 12 unit kerja tersebut. Pada unit kerja pembuatan panel bambu, Ambar kembali menjelaskan bahwa kegiatan ini bekerja sama dengan PT. Dekor Asia Jayakarta, dan hasilnya oleh perusahaan tersebut ada yang diekspor ke Australia.
Para mahasiswa tampak takjub mengetahui hasil karya WBP ada yang diekspor ke Australia. Ketakjuban mereka bertambah ketika melihat kerajinan elektronik berupa pembuatan trafo, yang pemasarannya lewat online, dan sudah mencapai Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.

“Ketrampilan membuat trafo dilatih oleh seorang WBP yang memang memiliki keahlian dalam membuat trafo, ini bukti bahwa WBP juga menjadi pilar dalam pembinaan,” papar Ambar kepada mahasiswa.

“Pak, saya lihat dari tadi kok petugas Lapas malah akrab dengan napi, bahkan asik bercanda. Kok malah tidak kelihatan seremnya?”, tanya seorang mahasiswi dengan muka penasaran.

“Mengapa harus seram bila suasana akrab bisa kita bangun dalam memberikan pembinaan kepada WBP?” kata Ambar pun menanggapi.

“Kalau di televisi penjara itu selalu kelihatan seram dan menakutkan. Ini malah tamannya saja indah, suasananya akrab, petugasnya tidak kelihatan galak, dan napinya juga biasa aja?”, sanggah mahasiswi yang lain.

“Kalian bisa lihat sendiri kan, suasana seram sepertinya sulit didapat di Lapas Wirogunan. Perlu kalian ketahui bahwa lapas bukan tempat untuk balas dendam, bukan tempat pembantaian, tetapi tempat WBP dibina atau dientaskan agar dapat menjadi warga negara yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat.” , jelas Ambar menanggapi rasa heran para mahasiswi tersebut sambil menuju Aula Lapas guna memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai Lapas Wirogunan. (A.K.P. HENDRIYANTO)

Filed in: Kabar Penjara November 2014

No comments yet.

Leave a Reply