Jumat, 10 Juli 2020 - 11:05 WIB

Gerakan Puisi Menolak Korupsi di Lapas Wirogunan

101_5293

Puluhan orang penyair dari berbagai daerah dan tergabung dalam “Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK)”pada hari Selasa (08/03/2016) melakukan kunjungan ke Lapas Wirogunan. Bagi mereka ini adalah Road Show ke-37 setelah mengunjungi daerah-daerah lain di Indonesia. Lapas Wirogunan menjadi pilihan mereka di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk berpuisi dan berdiskusi tentang “Menolak Korupsi”.

RB Pramono, koordinator Gerkan PMK Yogyakarta menyatakan, “Kegiatan ini diadakan di Lapas Wirogunan agar kami mendapat pandangan baru tentang korupsi, dan bisa dijadikan masukan bagi Laskar PMK agar lebih terbuka, semakin matang, lebih obyektif, dan tetap memegang teguh untuk menolak korupsi.”

Awalnya para laskar PMK belum berbaur dengan para narapidana yang sebagian besar berkasus korupsi. Melihat ini Sosiawan Lea, Ketua Umum Gerakan PMK membaurkan Laskar PMK dengan narapidana dengan memindahkan duduk mereka. Dia sedikit mendongeng tentang sejarah korupsi yang ternyata sudah ada sejak ribuan tahun. Bicaranya rurut, tegas dan lantang, gerakannya juga dinamis kesana sini, sehingga para narapidana dan petugas Lapas Wirogunan fokus memperhatikan. Dia juga memperkenalkan anggota laskar PMK dengan segala julukannya, sehingga gelak tawa pun sering memecahkan suasana. Asiknya, setiap Sosiawan berteriak,”Satu Hati!” Para laskar pun menjawab,”Menolak Korupsi!”

Puji, narapidana kasus korupsi adalah orang pertama dalam parade pembacaan puisi ini. Buat orang yang tidak menggeluti puisi seperti para Laskar PMK, penampilannya yang tidak grogi, dan apik dalam membaca, disambut tepuk tangan meriah oleh para penikmat. Setelah itu satu persatu para Laskar PMK mempertontonkan aksinya membaca puisi, termasuk Bambang, sosok setengah baya yang berpuisi dengan properti kulit buku yang sangat besar dan beberapa wayang kulit.

Pada acara diskusi tampil tiga orang pembicara, Heru dari Laskar PMK, Zaenal Arifin Kepala Lapas Wirogunan, dan Purwanto seorang narapidana. Heru membahas korupsi dari kaca mata Laskar PMK, Zaenal Arifin membahas korupsi dari kaca mata Lapas, dan Purwanto membahas korupsi dari kaca mata seorang narapidana.

Para Laskar PMK diam sesaat sewaktu Purwanto bertutur bahwa tidak semua narapidana koruptor dengan sengaja berbuat kejahatan. Banyak para narapidana koruptor harus menjalankan pidana karena korban kebijakan, salah dalam menterjemahkan peraturan, dan ada juga yang sengaja dibenturkan dan dia tidak berdaya.

Diakhir cerita Purwanto dengan kata-kata menekan bertanya,” Masihkah kami diakui putra Bangsa?” “Masihkah kami diakui Anak Bangsa?”

“Masih!” kompak para Laskar PMK menjawab.

Satu orang dari mereka pun menyeletuk,”Lanjutkan karyamu!”

Ambar Kusuma

Filed in: Kabar Penjara Maret 2016

No comments yet.

Leave a Reply